RSS

30 years Village People

Tiga dekade sensasi Orang Kampung

30 tahun lalu, industri musik dunia yang dikangkangi musik cadas dan musik pop disko guncang oleh liukan enam pria gagah Village People dengan dandanan fantastis yang kemudian disebut sebagai sub kultur boys band.

Kehebohan terjadi ketika majalah musik prestisius Rolling Stone, Vol. 289, yang terbit 19 April 1979 memajang kelompok vokal dan tari ini di sampul mereka. Sekaligus menjadi pengkuan terhadap eksistensi fantasi kaum gay.

Sejak dibentuk seorang komposer keturunan Prancis, Jacques Morali pada 1977, Village People mengandalkan musik disko, lirik ringan dan dandanan panggung yang menawan.

Setiap personil membawakan citra fantasi kaum gay. Polisi (Victor Willis), Kepala Suku Indian (Felipe Rose), Cowboy (Randy Jones), pekerja kontruksi (David Hodo), pengendara motor gede (Glenn Hughes) dan tentara (Alex Briley).

Keenamnya menggebrak lewat album Village People (1977), nama album yang dirilis di bawah label Casablanca Records itu merujuk daerah New York City’s Greenwich Village, sebuah perkampungan yang khusus ditempati pria-pria pecinta sesama jenis.

Dalam waktu singkat tembang Macho Man dan Y.M.C.A marak diputar di lantai klub-klub disko dan radio top. Singkat kata mereka melejit di bawah padangan negatif dan pendapat nyinyir kaum puritan dan moralis.

Puncaknya pada 1979 ketika tembang In the Navy menjadi tembang latar iklan pencarian anggota baru Angkatan Laut AS. Teriakan “they want you, they want you to recruit you!” jadi tagline yang mengena di tengah sikap anti militer pemuda AS pasca perang Vietnam.

Boleh dibilang saat itu Village People menggebrak menggapai puncak tangga lagu dunia. Tembang-tembang mereka yang lain seperti San Francisco (You’ve Got Me), I Am What I Am dan Go West adalah lagu terpopuler.

Titik balik

Namun makin tinggi angin makin kencang angin menerpa dirasakan Village People. Sang vokalis dan penulis lirik, Victor Willis memilih keluar dari kelompok ini secara tiba-tiba di akhir 1979.

Padahal tembang Can’t Stop the Music dan Magic Night tengah naik daun disela-sela pembuatan film Can’t Stop the Music, ada dua lagu yang ditulis untuk film ini yaitu Magic Nights dan Milkshake. Alhasil film garapan sutradara Nancy Walker gagal total.

Morali jelas puyeng karena ITC Entertainment yang dibentuknya bersama Allan Carr dan Henri Belolo sudah mengucurkan dana hingga US$$20 juta, bujet besar di masa itu untuk sewa studio milik MGM di Hollywood dan beberapa lokasi syuting di New York dan San Francisco.

Kepergian Willis membuat Village People ambruk, Morali dan Belolo meminta pentolan Negro Ensemble Company itu kembali untuk penggarapan album Fox On The Box. Willis keluar baik-baik usai album tersebut dirilis pada 1982.

Usai bergelut dengan ketergantungan obat Willis kemudian menikah dengan Phylicia Ayers-Allen pemeran Clair dalam sitkom The Cosby Show. Ini adalah pernikahan keduanya.

Tahun ini usai operasi pita suara, Willis akan konser keliling dunia dan merilis autobiografinya. Sebuah buku yang sangat ditunggu para penggemarnya.

Ditinggal pergi Willis, Village People kehilangan roh soul dan R & B mereka. Tak ada album atau tembang yang meledak. Hanya Sex Over the Phone dan New York City yang cukup menghentak pada 1985 untuk kemudian vakum.

Pada 1987, Village People reuni dengan anggota Randy Jones, David Hodo, Felipe Rose, Glenn Hughes, Alex Briley, dan Ray Simpson untuk kemudian kembali vakum.

Mata dunia baru kembali berpaling setelah arsitek Jacques Morali meninggal di Paris akibat sindrom AIDS pada 15 November 1991. Puncaknya tentu saja saat Timnas sepak bola Jerman meminta jasa Village People membuat lagu tema Piala Dunia 1994 berjudul Far Away in America.

Kelompok vokal ini kembali menundukkan kepala saat Glenn Hughes meninggal akibat kanker tenggorok pada 4 Maret 2001 di New York.

Tahun lalu Village People akhirnya berhak menapakkan tanda tangan mereka di Hollywood Walk of Fame pada 12 September 2008 disusul konser megah jelang tahun baru di NCAA Sun Bowl di El Paso, Texas.

Sampai saat ini Village People telah menjual lebih dari 85 juta keping album dan single. Tembang-tembang mereka bahkan terus abadi dan laris digarap ulang atau dimainkan pemusik atau dipakai di layar lebar dan layar kaca.

We Will Not Go Down

Nukilan sejarah musik Indonesia

Judul: Album Emas Kris Biantoro
Artis: Kris Biantoro dan Tuti Maryati
Jumlah Lagu: 20 tembang
Produser: Kris Biantoro

Ketika menerima album yang diproduksi Kris Biantoro ini ada tanda tanya. Apakah album yang berisi 20 tembang ini sekadar kado untuk peringatan 70 tahun pria bernama lengkap Christoporus Soebiantoro itu.

Namun semua itu sontak berubah. Album yang diproduksi dalam kemasan double CD ini adalah usaha napak tilas penyanyi yang kondang dengan tembang Dondong opo Salak itu terhadap karya para pencipta lagu yang hampir terlupakan oleh para pecinta musik dalam negeri.

Sembilan penyanyi dan pencipta itu adalah Bing Slamet, Iskandar, A.Oesman, Saiful Bahri, Mochtar Embut, Suni Warkiman, Ismail Marzuki, Soetedjo, dan Soedharnoto yang terus dikenang sebagai para macan panggung di masa big band

Dengan bantuan pengarah musik Djanuar Ishak dan penata musik Didiek Ishak lagu ini mirip buku sejarah yang terasa lebih renyah karena selain menyanyikan dengan seorisinalitas mungkin, album ini dilengkapi sekelumit sejarah di balik semua lagu.

Sejak lagu pertama, Kris dengan suara merdunya mendendangkan ‘Hanya Semalam’ karya Bing Slamet yang romantis khas masa 1960-1970-an. Masa-masa ketika sosok yang digelari penyanyi adalah biduan yang sebenarnya.

Sebagai tembang dan harus dinyanyikan oleh manusia di luar produk instan industri musik masa kini, Kris sanggup secara sempurna menyanyikan tembang-tembang berkategori sulit.

Simak saja tembang ‘Sewindu’ karya Iskandar yang membutuhkan penguasaan suara, nada dan tempo menyanyi. Tembang yang dikenal sebagai neraka bagi para penyanyi.

Satu kekurangan yang terasa mengganggu adalah aransemennya yang terasa terlalu modern. Bagaimana pun roh sebuah big band tak akan bisa secara sempurna digantikan synthesizer.